Membayangkan Menangkap Capung di Belakang Rumah
Aku sudah lupa, kapan terakhir kali aku bahagia hanya dengan berlari. Belakangan aku menyadari bahwa berjalan dengan terburu-buru sudah “aneh” untuk dilakukan. Setidaknya menurutku begitu. Apakah usia memperlambat kecepatan orang dalam bergerak?
Ketika usiaku belum sampai sejumlah jari tangan, berlari adalah bagian dari nafasku. Seingatku itu sangat menyenangkan. Bapak pernah mengajak pergi untuk lari pagi di sebuah taman. Ia mengatakan ini semua untuk kesehatan, tapi aku bingung sebab setengah dari hariku sudah habis untuk berlari. Bermain petak umpet, bermain bentengan, bahkan hanya untuk membeli jajan di warung kugapai dengan berlari.
Tidak hanya berlari yang membuatku senang, dahulu aku juga sering berkeliling taman dengan sepeda motor–tentu saja dibonceng bapak. Betapa senangnya aku melihat banyak pedagang makanan yang mengitari taman, sebanyak varian Power Rangers yang kutonton saat itu. Namun dalam kesempatan lain, jalan-jalan batal karena aku tidak sengaja menarik gas ketika duduk di depan. Seketika motor melaju dan menghempaskan kita berdua ke jalan berukuran satu setengah meter itu. Aku tidak mengerti kenapa bapak begitu kesal dan tidak berbicara padaku seharian. Sungguh sebuah penyesalan karena tidak bisa melihat pedagang gulali di taman.
Ketika aku sudah memiliki motor dan bisa mengendarainya, entah kenapa motor hanya dipakai untuk ke warung saja. Apakah perasaan senang mengitari taman ini sudah hilang? Apakah rasa itu terhempas bersama motor yang tidak sengaja ku-gas? Entahlah, yang jelas aku sudah tidak berselera untuk mengendarai motor tanpa tujuan. Bahkan tidak pernah terbesit di kepalaku untuk melihat penjaja gulali menyulap cairan gula panas menjadi sebuah bentuk bangau, atau terompet, atau balon, atau Menara Eiffel sekalipun. Aku bingung kenapa badanku sangat malas untuk dibawa bersenang-senang seperti dulu? Bahkan berlari dengan iming-iming kesehatan tubuh.
Cara pandangku melihat barang-barang sekitar juga ikut berubah. Kini motor ya motor saja. Piring ya piring saja. Sarung ya sarung saja. Tidak pernah lagi aku duduk di bawah mesin jahit dan berangan-angan menahkodai sebuah kapal bajak laut yang sedang terombang-ambing di tengah samudera. Atau mengambil sebuah potongan bambu yang tergeletak di jalan, mengayunkan dan berpose menyilangkan pedang selayaknya Miyamoto Musashi dari Zaman Edo. Atau menumpuk bantal di atas kasur sebagai sebuah benteng dari serangan hantu-hantu yang akan mengganggu ketika sendirian di rumah. Atau memandang poster David Beckham dan membayangkan bisa bermain bersamanya di Old Trafford, tentu dengan gaya rambut kerennya juga. Saat ini daya imajinasiku terlalu tumpul untuk menyelipkan sandal di tangan, kemudian membayangkan itu bisa menambah kecepatan berlari hingga setara dengan Flash.
Kebingunganku masih kental hingga sekarang, karena seingatku tidak pernah meninggalkan mainan-mainan ini di tengah jalan. Apalagi membuangnya. Entah, kapan dan di mana semua itu terjatuh? Apakah keceriaan memanjat pohon seri patah, bersama patah hati di sekolah menengah? Atau keseruan menangkap kadal dan mengejar layangan di pinggir kali ikut terperangkap bersama style dan fashion 10 tahun lalu? Aku masih tak ingat, kapan mendengarkan lagu-lagu patah hati atau lagu-lagu cengeng bisa terasa sedekat ini? Atau kapan aku mulai mengerti bahwa semua makanan atau jajanan yang kumakan sudah dikenai pajak diam-diam tanpa sepengetahuanku? Bahkan hanya untuk sebutir permen sugus. Perlahan aku menyadari hal-hal itu merubah caraku melihat keseruan-keseruan masa kecil.
Seingatku, aku masih bermain pasir di pantai dengan ombak yang cukup tinggi di selatan Jawa pada tahun 2014. Masih bermain “polisi-maling” dan lari-larian membelah gang-gang kecil di barat Jakarta. Masih bermain bola dengan hadiah lima ribu rupiah jika memenangkannya sebelum maghrib. Masih melarikan diri di tengah-tengah sujud salat tarawih untuk bermain perang sarung sebelum jam 10 malam. Masih menganggap bahwa jam 1 malam adalah waktu parade setan berkeliling mencari bocah untuk dimakan.
Seingatku, aku hanyalah seorang anak yang senang berlari.